Rangkaian Seri dan Pararel Kapasitor / Kondensator

0
Rangkaian Paralel Kapasitor / Kondensator
Seperti halnya pada resistor, kapasitor dapat dirangkai secara seri dan pararel. Alasan untuk merangkai kapasitor secara paralel adalah untuk meningkatkan total jumlah beban penyimpanan.

Dengan kata lain, meningkatkan kapasitansi, itu juga meningkatkan jumlah energi yang dapat disimpan. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar berikut ini :

Rangkaian Seri dan Pararel pada Kapasitor
Rangkaian Pararel Kapasitor

Sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut : C Total = C1 + C2 + … Cn
Contoh Perhitungan Kapasitor dihubungkan secara paralel

Rangkaian Seri dan Pararel Kapasitor / Kondensator
Rangkaian Pararel Kapasitor

Maka Pada gambar diatas diperoleh kapasitas total dari kondensator tersebut adalah :

  • C Total = C1 + C2 + C3
  • C Total = 22 + 22 + 22
  • C Total = 66 uF (micro Farad)

Rangkaian Seri Kapasitor / Kondensator
Pada penyusunan kapasitor secara seri seperti pada gambar Berikut :

Rangkaian Seri dan Pararel Kapasitor / Kondensator
Rangkaian Seri Kapasitor

Kapasitor di rangkai secara seri kita dapatkan bahwa arus yang melewati kapasitor bernilai tetap sedangkan tegangan yang melewatinya berubah- ubah atau berbeda.
Sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut : 1/C Total = 1/C1 + 1/C2 + … 1/Cn
Contoh Perhitungan Kapasitor dihubungkan secara Seri :

Rangkaian Seri dan Pararel Kapasitor / Kondensator
Rangkaian Seri Kapasitor

Maka Pada gambar diatas diperoleh kapasitas total dari kondensator tersebut adalah :

  • 1/C Total = 1/C1 + 1/C2 + 1/C3
  • 1/C Total = 1/22 + 1/22 + 1/22
  • 1/C Total = 1/22 C Total = 22/2
  • C Total = 7,33 uF (Micro Farad)

Cara menguji kapasitor sebagai berikut:

  • Kapasitor yang mempunyai polaritas (mempunyai kutub negatif dan positif)
    Untuk menguji kapasitor berpolaritas digunakan ohmmeter dimana pencolok merah dihubungakan dengan kutub negatif dan pencolok hitam pada kutub positif.
    Bila jarum menunjukkan harga tertentu kemudian kembali ke tak terhingga (Sangat besar sekali) dikatakan kapasitor baik. Bila menunjukkan harga tertentu dan tidak bergerak ke tak terhingga dikatakan kapasitor bocor dan bila tidak bergerak sama sekali kemungkinan kapasitor putus atau bisa jadi range ohmmeter kurang besar.
  • Kapasitor nonpolar.
    Caranya sama dengan kapasitor berpolaritas hanya saja kamu tidak perlu memperhatikan kutub positif dan kutub negatif.

Sumber klik di sini

Advertisements

Inverter DC Ke AC

0
Inverter adalah perangkat elektronika yang dipergunakan untuk mengubah tegangan DC (Direct Current) menjadi tegangan AC (Alternating Curent). Output suatu inverter dapat berupa tegangan AC dengan bentuk gelombang sinus (sine wave), gelombang kotak (square wave) dan sinus modifikasi (sine wave modified). Sumber tegangan input inverter dapat menggunakan battery, tenaga surya, atau sumber tegangan DC yang lain. Inverter dalam proses konversi tegangn DC menjadi tegangan AC membutuhkan suatu penaik tegangan berupa step up transformer. Contoh rangkaian dasar inverter yang sederhana dapat dilihat pada gambar berikut. Contoh Rangkaian Inverter Sederhana inverter dc ke ac,prinsip kerja inverter,jenis inverter,tipe inverter,output inverter,sine wave inverter,square wave inverter,teori inverter,inverter adalah,inverter 1 fasa,inverter 3 fasa,modified sine wave inverter,gelombang output inverter,fungsi inverter,kategori inverter,karkteristik inverter,input inverter,inverter 12v,inverter 24v,dc to ac inverter,inverter Jenis – Jenis Inverter DC Ke AC Berdasarkan jumlah fasa output inverter dapat dibedakan dalam : Inverter 1 fasa, yaitu inverter dengan output 1 fasa. Inferter 2 fasa, yaitu inverter dengan output 3 fasa. Inverter juga dapat dibedakan dengan cara pengaturan tegangan-nya, yaitu : Voltage Fed Inverter (VFI) yaitu inverter dengan tegangan input yang diatur konstan Current Fed Inverter (CFI) yaitu inverter dengan arus input yang diatur konstan Variable dc linked inverter yaitu inverter dengan tegangan input yang dapat diatur Berdasarkan bentuk gelombang output-nya inverter dapat dibedakan menjadi : Sine wave inverter, yaitu inverter yang memiliki tegangan output dengan bentuk gelombang sinus murni. Inverter jenis ini dapa memberikan supply tegangan ke beban (Induktor) atau motor listrik dengan efisiensi daya yang baik. Sine wave modified inverter, yaitu inverter dengan tegangan output berbentuk gelombang kotak yang dimodifikasi sehingga menyerupai gelombang sinus. Inverter jenis ini memiliki efisiensi daya yang rendah apabila digunakan untuk mensupplay beban induktor atau motor listrik. Square wave inverter,yaitu inverter dengan output berbentuk gelombang kotak, inverter jenis ini tidak dapat digunakan untuk mensupply tegangan ke beban induktif atau motor listrik. Prinsip Kerja Inverter Prinsip Kerja Inverter DC ke AC,sistem kerja inverter,pulsa inverter,inverter pwm,proses pwm inverter,inverter dc ke ac Prinsip kerja inverter dapat dijelaskan dengan menggunakan 4 sakelar seperti ditunjukkan pada diatas. Bila sakelar S1 dan S2 dalam kondisi on maka akan mengalir aliran arus DC ke beban R dari arah kiri ke kanan, jika yang hidup adalah sakelar S3 dan S4 maka akan mengalir aliran arus DC ke beban R dari arah kanan ke kiri. Inverter biasanya menggunakan rangkaian modulasi lebar pulsa (pulse width modulation – PWM) dalam proses conversi tegangan DC menjadi tegangan AC. Inverter Setengah Gelombang Inverter Setengah Gelombang,dasar Inverter Setengah Gelombang,rangkaian Inverter Setengah Gelombang,skema Inverter Setengah Gelombang,teori Inverter Setengah Gelombang,prinsip kerja Inverter Setengah Gelombang Prinsip kerja dari inverter satu fasa dapat dijelaskan dengan gambar diatas. Ketika transistor Q1 yang hidup untuk waktu T0/2, tegangan pada beban V0 sebesar Vs/2. Jika transistor Q2 hanya hidup untuk T0/2, Vs/2 akan melewati beban. Q1 dan Q2 dirancang untuk bekerja saling bergantian. Pada gambar diatas juag menunjukkan bentuk gelombang untuk tegangan keluaran dan arus transistor dengan beban resistif. Inverter jenis ini membutuhkan dua sumber DC (sumber tegangan DC simetris), dan ketika transistor off tegangan balik pada Vs menjadi Vs/2, yaitu : V_{o}=\frac{V_{s}}{2} V_{eff}=\frac{2V_{s}}{\sqrt{2 \pi}} = 0,45 \cdot V_{s} Inverter Gelombang Penuh Inverter Setengah Gelombang,prinsip kerja Inverter Setengah Gelombang,rangkaian dasar Inverter Setengah Gelombang,skema Inverter Setengah Gelombang,prinsip Inverter Setengah Gelombang Rangkaian dasar inverter gelombang penuh dan bentuk gelombang output dengan beban resistif ditunjukkan pada gambar diatas. Ketika transistor Q1 dan Q2 bekerja (ON), tegangan Vs akan mengalir ke beban tetapi Q3 dan Q4 tidak bekerja (OFF). Selanjutnya, transistor Q3 dan Q4 bekerja (ON) sedangkan Q1 dan Q2 tidak bekerja (OFF), maka pada beban akan timbul tegangan –Vs. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam memilih inverter DC ke AC diantaranya adalah. Kapasitas beban yang akan disupply oleh inverter dalam Watt, usahakan memilih inverter yang beban kerjanya mendekati dengan beban yang hendak kita gunakan agar effisiensi kerjanya maksimal. Sumber tegangan input inverter yang akan digunakan, input DC 12 Volt atau 24 Volt. Bentuk gelombang output inverter, Sinewave ataupun square wave untuk tegangan output AC inverter. Hal ini berkaitan dengan kesesuain dan efisiensi inverter DC ke AC tersebut.

Sumber klik di sini

Rangkaian sensor cahaya | Sensor cahaya dengan LDR

0
LDR (Light Dependent Resistor) merupakan salah satu komponen elektronika yang dapat berubah resistansinya ketika mendeteksi perubahan intensitas cahaya yang diterimanya sehingga LDR dapat juga dikatakana sebagai sensor cahaya, karakteristik dari LDR ini ialah LDR akan berubah resistansinya / tahanannya ketika terjadi perubahan cahaya yang dideteksinya.
Dengan karakteristik seperti itu, dengan menggunakan prinsip pembagi tegangan dalam merancang suatu sensor sederhana, dapat dibaca perhitungannya di artikel saya sebelumnya Prinsip Dasar Rangkaian Sensor, Rangkaian Sensor dengan Pembagi Tegangan. kita dapat merancang dan membuat rangkaian pendeteksi cahaya seperti pada bahasan sebelumnya telah dibahas rangkaian sensor suhu dengan thermistor.
Berikut rangkaian sensor cahaya
Rangkaian 
Rangkaian sensor cahaya | Sensor suhu dengan LDR
Komponen yang digunakan pada rangkaian sensor cahaya diatas
Baterry
LDR
Variabel reesistor
Transistor NPN 2N2222
Relay
Led 2 Buah
Penjelasan rangkaian sensor cahaya
Ketika LDR mendeteksi kenaikan suhu maka resistansi LDR akan mengecil dan ketika resistansi LDR lebih kecil dari resistansi variabel resistor sebagai pembagi tegangannya maka akan ada arus yang mengalir ke basis transistor, ketika itu juga relay akan aktif dan led merah [ sebagai indikator adanya cahaya] sebaliknya jika cahaya yang dideteksi LDR kecil maka resistansi pada LDR akan menjadi besar, dan ketika resistansi LDR lebih besar dari pembagi tegangannya dalam rangkaian kali ini variabel resistor maka tidak akan ada arus yang mengalir ke basis transistor, relay tidak aktif dan led hijau [ sebagai indikator tidak adanya cahaya ].
 Rangkaian sensor cahaya | Sensor cahaya dengan LDR
Rangkaian sensor cahaya | Ketika LDR tidak mendeteksi cahaya
Rangkaian sensor cahaya | Sensor cahaya dengan LDR
Rangkaian sensor cahaya | Ketika LDR mendeteksi cahaya
Sumber klik di sini

Macam-macam Microprocessor

0

Mikroprosesor atau sering juga dituliskan dengan lambang µP atau uP adalah sebuah central processing unit (CPU) elektronik komputer yang bahannya terbuat dari transistor mini dan sirkuit lainnya di atas sebuah sirkuit terintegrasi semikonduktor.

Dulu, sebelum berkembangnya mikroprosesor, CPU elektronik terbuat dari sirkuit terintegrasi TTL terpisah; sebelumnya, transistor individual; sebelumnya lagi, dari tabung vakum. Bahkan telah ada desain untuk mesin komputer sederhana atas dasar bagian mekanik seperti gear, shaft, lever, Tinkertoy, dll.

Perubahan atau evolusi dari mikroprosesor ini telah diketahui mengikuti Hukum Moore (pendiri Intel) yang merupakan peningkatan performa dari tahun ke tahun. Teori ini merumuskan bahwa daya penghitungan akan berlipat ganda setiap 18 bulan, sebuah proses yang akurat terjadi sejak awal 1970-an.

Saya yakin, banyak di antara anda yang sudah mengenal jenis-jenis mikroprosessor, kali ini akan saya sajikan dalam bentuk tabel seperti di bawah ini.

Keterangan :

Informasi tentang tabel ini:

* Tanggal adalah tahun yang prosesor pertama kali diperkenalkan. Banyak prosesor diperkenalkan kembali pada kecepatan clock yang lebih tinggi selama bertahun-tahun setelah tanggal rilis asli.

* Transistor adalah jumlah transistor pada chip. Anda dapat melihat bahwa jumlah transistor pada satu chip telah meningkat terus selama bertahun-tahun.

* Mikron adalah lebar, dalam mikron, dari kawat terkecil pada chip. Sebagai perbandingan, rambut manusia adalah 100 mikron tebal. Sebagai ukuran fitur chip turun, jumlah transistor meningkat.
* Kecepatan Clock adalah tingkat maksimum yang chip bisa di-overclock kecepatan clock akan lebih masuk akal di bagian selanjutnya.

* Data Width adalah lebar dari ALU. Sebuah ALU 8-bit dapat tambah / kurang / kali / etc. dua nomor 8-bit, sementara ALU 32-bit dapat memanipulasi angka 32-bit. Sebuah ALU 8-bit harus mengeksekusi empat instruksi untuk menambahkan dua 32-bit angka, sementara ALU 32-bit dapat melakukannya dalam satu instruksi. Dalam banyak kasus, bus data eksternal adalah lebar sama dengan ALU, tetapi tidak selalu. The 8088 memiliki ALU 16-bit dan bus 8-bit, sedangkan Pentiums modern mengambil data 64 bit pada suatu waktu untuk ALUs mereka 32-bit.

* MIPS adalah singkatan dari “millions of instructions per second” atau “jutaan instruksi per detik” dan merupakan ukuran kasar dari kinerja CPU. Modern CPU dapat melakukan hal yang berbeda begitu banyak yang MIPS peringkat kehilangan banyak makna mereka, tetapi Anda bisa mendapatkan pengertian umum dari kekuatan relatif dari CPU dari kolom ini.

Sumber klik di sini

Dasar Elektronika Daya

0

Pada Sistem Tenaga Listrik terdapat penggunaan komponen elektronika yang umumnya dipakai dalam rangkaian pengaturan motor-motor listrik. Komponen-komponen elektronika yang dipergunakan pada sistem tenaga listrik pada prinsipnya harus mampu menghasilkan daya yang besar atau mampu menahan disipasi daya yang besar.

Elektronika daya meliputi switching, pengontrolan dan pengubah (konversi) blok-blok yang besar dari daya listrik dengan menggunakan sarana peralatan semikonduktor. Dengan demikian elektronika daya secara garis besar terbagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu :

1. Rangkaian Daya
2. Rangkaian kontrol

Pada gambar berikut menunjukkan hubungan antara kedua rangkaian diatas yang terintegrasi menjadi satu, dimana keduanya banyak memanfaatkan peralatan semikonduktor.

Rangkaian daya terdiri dari komponen Dioda, Thyristor dan Transistor Daya. Sedangkan rangkaian kontrol terdiri atas Dioda, Transistor dan rangkaian terpadu (Integrated Circuit / IC).

Dengan menggunakan peralatan-peralatan yang serupa keandalan dan kompatibilitas dari perlengkapan (sistem) akan dapat diperbaiki. Elektronika daya merupakan bagian yang penting dalam industri-industri, yaitu dalam pengontrolan daya pada sistem, proses elektronika dan lain-lain.

I. DIODA

Dioda merupakan penyatuan dari lapisan P dan N sebagaimana gambar struktur dan simbol lapisan.

Syarat dioda dalam keadaan ON adalah Vak positip sedangkan untuk OFF adalah Vak negatif.

Karateristik tersebut menggambarkan hubungan antara arus dioda (IR dan IF) agar Vak dalam kondisi menahan arus (OFF) maupun dalam keadaan mengalir (ON). Dalam keadaan OFF, Vak = Vr = negatif, maka dioda menahan arus namun terdapat arus bocor Ir yang kecil.

Dalam keadaan ON, Vak = Vf = positif, dioda mengalirkan arus namun terdapat tegangan jatuh pada dioda = ∆ Vf, dan jika ∆ Vf ini makin besar untuk arus dioda yang makin tinggi, berarti rugi konduksi If * ∆ Vf naik. Terlihat pula pada karateristik dioda diatas bahwa bila Vr terlalu tinggi dioda akan rusak.

Karateristik Switching

Karateristik ini menggambarkan sifat kerja dioda dalam perpindahan keadaan ON ke OFF dan sebaliknya.

Dioda akan segera melalukan arus jika Vr telah mencapai lebih dari Vf minimum dioda kondusif dan pada saat OFF terjadi kelambatan dari dioda untuk kembali mempunyai kemampuan memblokir tegangan reverse. Dari gambar diatas tgerlihat adanya arus balik sesaat pada dioda, dimana arus balik ini terjadi pada saat peralihan keadaan dioda dari kondisi ON ke kondisi membloking tegangan reverse.

Dengan adanya sifat arus balik, maka diperoleh dua jenis penggolongan dioda yaitu :
1. Dioda Cepat, yaitu dioda dengan kemapuan segera mampu membloking
tegangan reverse yang cepat, orde 200 ns terhitung sejak arus forward dioda
sama dengan 0 (nol).

2. Dioda Lambat, yaitu untuk hal yang sama dioda memerlukan waktu lebih lama,
Q32 > Qs1.

Terminologi karateristik dioda

Trr : Reverse Recovery Time, waktu yang diperlukan dioda untuk bersifat membloking tegangan forward.
Tjr : Waktu yang diperlukan oleh Juction P-N untuk bersifat membloking.
Tbr : Waktu yang diperlukan daerah perbatasan Junction untuk membentuk zone bloking.
Qs : Jumlah muatan yang mengalir dalam arah reverse selama perpindahan status dioda ON ke OFF.

Dioda jenis lambat banyak digunakan pada rangkaian konverter dengan komutasi lambat/natural, seperti rangkaian penyearah. Sedangkan Dioda jenis Cepat dipergunakan pada konverter statis dengan komutasi sendiri seperti misalnya pada DC Chopper, konverter komutasi sendiri dll.

Kemampuan Tegangan

Dioda bersifat memblokir tegangan reverse, ternyata mampu menahan tegangan tersebut tergantung pada karateristik tegangan itu sendiri.

VRWM = Puncak tegangan kerja normal.
VRRM = Puncak tegangan lebih yang terjadi secara periodik.
VRSM = Puncak tegangan lebih tidak periodik.

Kemampuan Arus Dioda

Adanya tegangan jatuh konduksi ∆ Vf menyebabkan rugi daya pada dioda yang keluar dalam bentuk panas. Temperatur junction maksimum terletak antara 110°C – 125°C. Panas yang melebihi dari temperatur ini akan menyebabkan dioda rusak. Temperatur maksimum ini dapat dicapai oleh bermacam-macam pembebanan arus terhadap dioda.

If (AV) : Arus rata-rata maksimum yang diijinkan setiap harga arus rata-rata akan menghasilkan suatu harga temperatur akhir pada junction dioda. Batas If (AV) ini juga tergantung pada temperatur ruang dan jenis sistem pendinginan (Heat-sink).

If (RMS) : Harga effektif maksimum arus dioda. Harga rata-rata yang di bawah If (∆V) maksimum, belum menjamin keamanan operasi dioda terutama arus beban dioda dengan form factor yang tinggi. ( Rate Mean Square )

If (RM) : Harga puncak arus lebih periodik yang diijinkan.

If (SM) : Harga puncak arus lebih non periodik yang diijinkan

T : Batas integral pembebanan arus dimana dioda masih mampu mengalaminya.

Besaran ini berlaku untuk ½ cycles atau 1 ms dan merupakan pedoman dalam pemilihan pengaman arus.

Contoh data Fast Dioda Type MF 70
Maximum repetitive peak reverse voltage, Vdrm = 1200 Volt.
Mean forward current, If (AV) = 70 A
RMS forward current, Irms max = 110 A
Non repetitive forward current, If (ms) = 700 A
Forward V-Drop, Vfm=V, pada Ifm = 210 A
Peak reverse current, Irm = 5 mA
Reverse recovery time, trr = 200 ns
Stored, charger, Qrr = T µc (Qs)
Thermal resistance, Rth-jc = 0,37°C/w

Pada artikel lanjutan akan dibahas mengenai: SCR (Silicon Controlled Rectifier), TRIAC (Trioda Alternating Current Switch), DIAC (Bilateral Trigger Dioda) dan UJT (Uni-Juntion Transistor).

sumber klik di sini